Sudahkah Anda Resah Hari Ini?

Sekelumit tentang motivasi menulis


Kortim Salman, 22 November 2007


Sore ini seneng banget dateng ke pertemuan FLP ada Kang Irfan Hidayatullah. Udah lama pengen menimba ilmu dari beliau, eh, taunya sore ini beliau datang. Kamisan kali ini kita sharing tentang motivasi untuk menulis. Insya Allah banyak yang didapet dari sharing sore ini. Kalau kita bertanya "sudahkah kita menulis hari ini?" Maka kata Kang Irfan kita ga boleh lepas dengan pertanyaan: "sudahkah kita resah hari ini?" Karena sesungguhnya menulis itu adalah menumpahkan keresahan. Keresahan itu bisa dikatakan 'ruh' atau 'software'-nya menulis, sedangkan hardware-nya ya bentuk tulisan yang ditulis. Kalau keresahan itu sudah ada, biasanya lebih mudah bagi kita untuk menulis, lebih mengalir. Para penulis yang berhasil menghasilkan karya yang monumental biasanya berangkat dari adanya motif keresahan dalam dirinya. Sebut saja misalnya, Ahmad Tohari, beliau itu awalnya bukan penulis, tapi seorang kyai yang pada waktu itu sudah tak tahan lagi dengan keresahannya terhadap fenomena yang ada dalam masyarakat. Maka lahirlah novelnya "Ronggeng Dukuh Paruk" yang hingga kini terus dibaca dari generasi ke generasi, bahkan sudah diterjemahkan ke bahasa asing. Atau Andrea Hirata, yang sukses dengan novel "Laskar Pelangi"nya. Beliau sudah memendam keresahan untuk menuliskan Laskar Pelangi sudah sejak lama, hingga ketika tiba masa menuliskannya, Andrea menyelesaikan novel tersebut dalam waktu sekitar 3 setengah minggu saja. Bahkan pada awalnya novel tersebut tidak diniatkan untuk dipopulerkan, melainkan diperuntukkan orang-orang tertentu saja. Lagi pula zaman sekarang ini banyak sekali fenomena-fenomena yang meresahkan di sekitar kita.

Tak cukup hanya keresahan, tapi menyusul pertanyaan lain: "sudahkah kita punya garapan hari ini?" Artinya kita harus punya planning/proyek bagi tulisan kita. Adanya keresahan dan garapan ini bagus untuk kesehatan motivasi kita. Kalau mengharapkan uang/royalti, mungkin itu bagus juga untuk memotivasi menulis, tapi tidak bagus untuk kesehatan motivasi.

Apakah menulis itu merupakan pelarian? Tidak tepat juga. Menurut Kang Irfan, justru menulis itu adalah memetakan permasalahan dalam bentuk tulisan. Dengan menulis, justru kita mendekati permasalahan, berusaha mencari solusinya dalam tulisan yang kita buat. Hal ini tentu saja jika kita menulis memang bukan untuk sekadar hiburan saja. Ada juga jenis sastra pelarian (sastra escapis), sekarang banyak ditemukan dalam karya-karya populer, yang memang isi tulisan itu hanya untuk hiburan saja. Sedapat mungkin kita menulis ada 'ruh'nya, tak hanya menghibur, tapi ada idealisme yang kita suguhkan di dalamnya. Kata Kang Irfan, seperti halnya bayi, yang tumbuh secara alami, pada masanya merangkak, dia akan mampu merangkak, pada masanya berdiri dia akan mampu berdiri, begitu pula berlari. Menulis juga seperti itu. Secara alami, sesungguhnya orang yang dikaruniai intelektual seperti kita, kalau punya idealisme harusnya pasti mampu menulis, meskipun harus melalui berberapa tahapan.

Yang penting, jika kita melihat orang lain, jangan hanya melihat keberhasilannya saja. Ketahuilah bagaimana proses perjuangan orang tersebut untuk sampai berhasil seperti sekarang. Sebutlah Gola Gong, Asma Nadia, Sapardi Djoko Damono, Pramudya Ananta Toer, Danarto, dan banyak lagi yang merupakan para penulis yang berhasil. Untuk sampai berhasil seperti sekarang, mereka telah melalui perjuangan yang tidak ringan dalam menulis. Hanya saja ketika gagal, mereka tidak berhenti untuk menulis. Maka, yang penting lagi adalah memaksimalkan usaha. Kalau berkaca pada mereka, tanyalah pada diri sendiri, apakah perjuangan kita sudah seperti perjuangan mereka? Jika memang terus berusaha untuk menulis, pada saatnya nanti akan ada titik kulminasi di saat Allah menghendaki inilah saatnya kita berhasil menghasilkan karya yang berkualitas.

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh