Tentang Hujan yang Menemaniku

Mendung… aku bertanya-tanya adakah misteri yang kau kandung?

Hujan… Aku berpikir pada turunmu kali ini, makna apa yang kau simpan?

Rinaimu, mungkinkah ia butiran tangis kerinduan?

Mungkinkah ia jelmaan cinta yang membuat awanmu tiada?

Mungkinkah turunmu lebih dari sekedar basahi tanah dan tetumbuhan?

Hujan, aku tak menanti satu pun jawaban

Karena kutahu kau pun tak mampu

Menyingkap berjuta misteri Tuhan pada rahmat yang dititipkan kepadamu

Mungkin kau hanyalah latar

Mungkin kau hanyalah saksi

Mungkin kau hanyalah basah

Mungkin kau hanyalah dingin

Mungkin kau tidaklah hanya

----------

Hujan 3

Hujan….!!! Lalu aku pun basah, sepatu basah, kaos kaki basah, baju basah, tas pun basah… Jalanan becek, genangan air di mana-mana… Olala… kala deras begini, apalah arti sebuah payung? Dan, kuliah 2 jam tanpa nyaman. Basah, dingin, duduk manis dengarkan penjelasan tentang teori ikatan valensi elektron, orbital-orbital yang terlibat, geometrinya, nentuin persamaan gelombang yang paling cocok, bla… bla… Gubrak…

Hujan 2

Hujan…!!! Lalu aku pun tak peduli, terobos, payung ga cukup, basah, mau tak mau harus sampai di lokasi tujuan. Allahumma shoyyiban nafi’a… Da ga boleh ngedumel loh ya!

Kala pulang, hujan masih… sudahlah basah sekalian… sini-sana pada becek… Enjoy aja hujan-hujanan. Yang penting cepet sampe di kostan.

Kedinginan, capek habis ujian & nyiapin presentasi, belom makan, lalu ada lagu Satu Rindu-nya Opick feat. Amanda yang mengingatkanku akan hujan yang pertama.

Hujan kau ingatkan aku
Tentang satu rindu
Di masa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
Kau ibu… Oh Ibu…

Allah Ijinkanlah aku bahagiakan dia
Meski dia tak tau
Biarkanlah aku berarti untuk dirinya
Oh Ibu…

------------

Hujan 1

Hujan…!!! hujan air mata… Dah H-1 mau balik ke Bandung suatu keinginan masih belum terkabul. Lalu aku pun bertanya, kenapa begini? Kenapa pulang mudik ketemu adek bukannya tambah dewasa, malah tambah childish? Ya ampun… gw kenapa??? Dibilang lebih cocok tuker posisi gw yang jadi adeknya…

Aduh… tapi da gimana lagi kalo emang lagi pengen nangis? Kagak ada lampu merah yang sanggup nyetop. Ngerengek-rengek minta di anter ke kuburan sejak kemaren, gak ada yang mau. Salah sendiri sih, ga ikutan ziarah ma keluarga pas lebaran. Habis kali ini ga kompak sih… Sumpeh sedih banget, ntah kenapa. Mood gw jelek terus-terusan… meski sembunyi-sembunyi, rupanya ketahuan. Akhirnya ada yg ga tega & nyempetin nganter deh sore-sore meski mendung. Heran, biasanya di sini lagi ga musim hujan. Seneng… banget. Suasana pemakaman dah beda rupanya. Tak peduli, yang penting nyampe di makam bunda tercinta.

Doa-doa…

Dan hujan…

Gerimis pun luruh. Tanah pun basah. Nisan pun basah. Aku pun basah. Hatiku pun basah. Lalu doa pun terputus sampai di sini.

Tapi do’aku untukmu takkan terhenti mengalir sampai disini

-------------

Kunyanyikan semua lagu
Untukmu Ibu
Sebagai wujud terimakasih
Ku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang
Membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku

Ijinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian
Dihangat pelukmu

Didalam hati kuyakin
Serta percaya
Ada kekuatan doa yang engkau titipkan
Lewat Tuhan membuat semangat
Bila diri ini rapuh
Dan tiada berdaya

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya dihidupku
Tiada seorang pun yang dapat menggantimu

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

(Surga di Telapak Kakimu-nya Gita Gutawa. Seneng dengerin lagu ini)

Selepas hujan, 23 Oktober 2007

Komentar

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Quiet, The Power of Introverts [Wishful Wednesday #6]