Tak Cukup Hanya Mentari

Kita sama tlah rasai rengkuhan hangat mentari
Tersenyum menyapa di cerah pagi
Hingga berenang di kelembutan nuansa senja
Yang merah, yang emas, yang megah
Bahkan kita yang berkawan angin dan awan
Tak lagi gentar menantang siang
Yang membakar, yang terik, yang pijar
Tiap malam kita merindu esok
Merindu pagi bermentari
Di kegelapan malam kita berlomba meraba-raba cahaya
Bulan, bintang, lampu kamar, lampu jalan
Atau sekalian tenggelam, mata berpejam
Gumamkan doa agar bersua cahaya kala terjaga
Dan kita sama berujar, itulah fitrah.
Tapi mengapa kala mendung menyapa langit, kita sibuk
Panik merayu awan agar terus menahan hujan
Berlomba mengumpat hujan menyaing halilintar?
Sedang kita sibuk mengemis hujan kala kemarau terlampau panjang
Lalu apa yang kita sebut indah,
:mentarikah? Hujankah?
Sedang spektrum warna-warni berseni terpahat di lengkung pelangi
Dan kita sepakat pada indahnya, berdecak memuji
Sedang mentari saja takkan mampu melukis:
Mentari dan hujan adalah cat
Mata dan hati adalah kuas

Kala kita tlah lebih bijak, semesta adalah teman
Dan kita tak kesepian kala hujan
Lalu pelangi adalah lukisan
Yang terpasang di bingkai kehidupan


2 September 2007

-- Jika keberhasilan adalah mentari, dan kegagalan adalah hujan...
maka kita perlu keduanya untuk dapat melihat pelangi --

Komentar

Popular Posts

Novel Milea: Suara dari Dilan

Yuk, Berkunjung ke 5 Tempat Wisata Malam di Surabaya Ini

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon