Harry Potter and The Deathly Hallows






Cover Buku Harry Potter and The Deathly Hallows






Tegang, mendebarkan, membuat penasaran. Seperti biasanya, begitulah suasana yang Rowling tebarkan dalam novel pamungkas seri Harry Potter ini, membuat pembacanya tak dapat berhenti membaca sebelum tuntas hingga akhir. Dalam buku ketujuh dari seri fantasi Harry Potter ini, pembaca yang penasaran akan fenomena-fenomena yang masih dibuat misterius oleh Rowling sepanjang seri pertama hingga keenam akan dapat menemukan jawabannya. Sebagai salah satu contoh misalnya tentang Severus Snape, yang pada buku-buku sebelumnya masih misterius apakah dia berpihak kepada Lord Voldemort ataukah kepada Albus Dumbledore. Pada buku pertama, Harry Potter and The Sorcerer’s Stone, di akhir cerita diungkapkan bahwa sesungguhnya Snape melindungi Harry, artinya dia berpihak kepada Dumbledore. Namun, pada buku ke-enam, Harry Potter and The Half-Blood Prince, di situ diceritakan tentang Snape yang tampaknya merupakan a faithful death eater. Bahkan saat Bellatrix Lestrange meragukan kesetiaan Snape terhadap Voldemort, dengan lugasnya Snape memangkas semua keraguan itu, bahkan hal itu ditegaskan pula oleh aksinya membunuh Dumbledore sendiri. Nah, aksi Snape yang seolah-olah memperlihatkan sifat ‘dualisme’ ini diulas lagi di buku pamungkas ini. Tentu saja pertanyaan yang menggemaskan mengapa Dumbledore begitu keukeuh mempercayai Snape terjawab pula dengan cukup memuaskan.

Selain mengulas misteri yang terkait dengan buku-buku sebelumnya, tentu saja Rowling juga menghadirkan fenomena-fenomena baru yang tidak banyak disentuh pada buku-buku yang terdahulu. Misalnya saja mengenai masa lalu Dumbledore dan keluarganya. Sebelumnya Dumbledore hanya biasa diceritakan sebagai penyihir hebat dan bijaksana yang mengepalai sekolah sihir Hogwarts. Siapa tahu di buku ini disinggung tentang ayahnya, pembunuh muggle yang dijebloskan ke Azkaban, atau tentang ibunya dan saudara perempuannya yang digosipkan oleh Rita Skeeter merupakan seorang Squib, atau tentang hubungannya dengan saudara lelakinya, Aberforth, bahkan tentang sejarah mengapa hidungnya bengkok.

The Deathly Hallows, sesuai judul bukunya, juga adalah fenomena baru yang dimunculkan Rowling di buku ini. Meskipun tentu saja hal-hal yang tampak baru tersebut tetap saja sebetulnya berkaitan dengan keseluruhan cerita Harry Potter. Rowling memang jenius sekali merangkai dan mengembangkan imajinasinya hingga meluas dan mencakup tokoh-tokoh yang bejibun dengan karakternya masing-masing yang unik. Rangkaian imajinasi ini dituangkan dengan cantik tanpa memutuskan kesinambungannya dengan keutuhan cerita yang demikian panjang dan kompleks.

The Deathly Hallows dimunculkan dari sebuah cerita anak-anak yang pada awalnya dipandang tidak lebih dari sekedar cerita pengantar tidur atau mitos belaka. Namun lama kelamaan Harry terusik akan kemungkinan bahwa The Deathly Hallows adalah nyata, bahkan menyangkut kehidupannya sendiri. Lambang The Deathly Hallows seringkali ditemukan Harry, mulai dari buku cerita anak-anak warisan Dumbledore untuk Hermione, dikenakan oleh Xenophilius Lovegood, diceritakan oleh Viktor Krum berupa tanda yang dipakai Grindelwald, sampai-sampai Dumbledore di masa muda juga pernah berurusan dengan lambang ini. The Deathly Hallows terdiri dari 3 benda sihir, yaitu The Elder Wand, tongkat yang tak terkalahkan; The Stone of Resurrection, batu kebangkitan; dan Invisibility Cloak, jubah gaib yang dimiliki Harry sendiri.

Sebagai buku terakhir, tentu saja ini merupakan kisah penentuan yang mendebarkan tentang nasib Harry, akankah dia menang melawan Voldemort ataukah sebaliknya. Sementara itu di usia 17, Harry sudah dianggap sebagai penyihir dewasa dan tak dapat lagi terlindungi di rumah bibinya di Privet Drive. Memang seru sekali perburuan Harry oleh Voldemort ini. Sejak awal meninggalkan Privet Drive saja sudah ada battle menegangkan antara Harry yang dikawal oleh the Order of Phoenix dengan Voldemort dan Death Eaters-nya. Setelah itupun beberapa kali Harry sempat tertangkap basah dan tertawan oleh Death Eater. Pada saat itu Harry yang ditemani oleh Ron dan Hermione harus terus berpindah-pindah tempat persembunyian sekaligus berusaha mencari horcuxes Voldemort yang masih tersisa. Petualangan mencari dan menghancurkan Horcuxes ini amat seru dan menegangkan. Sampai-sampai Harry, Ron dan Hermione harus menyelundup ke Kementrian Sihir, ke Gringotts dan ke Hogwarts yang pada waktu itu juga sudah dikuasai Death Eater.

Di bab-bab agak akhir, kemurkaan Voldemort terhadap Harry semakin menjadi-jadi saat menyadari bahwa rahasia horcuxesnya telah diketahui Harry, sesuatu yang baginya sama sekali tak mungkin. Apalagi ternyata sebagian horcuxes yang tersembunyi itu telah ditemukan, bahkan dihancurkan. Sebelumnya Voldemort telah dibuat murka dengan kenyataan bahwa tongkatnya tak mampu mengungguli tongkat Harry. Dengan kenyataan ini, Voldemort akhirnya memburu Elder Wand, salah satu objek The Deathly Hallows. Puncak ketegangan battle antara Harry dan Voldemort terjadi di Hogwarts, di mana pada saat itu Harry menghadapi dilema, di satu sisi dia ingin ikut bertempur bersama para pembela Hogwarts melawan Death Eaters, sementara di sisi lain dia harus menemukan horcux keenam terlebih dahulu sebelum Voldemort datang dan berhadapan dengannya (padahal dia hanya punya sedikit waktu).

Pada akhirnya, Harry mendapat kenyataan bahwa dirinyalah horcux ketujuh. Sebagian jiwa Voldemort terdapat dalam dirinya. Lalu, apakah Harry tetap harus mengorbankan hidupnya demi melenyapkan Voldemort? Ataukah seperti kata ramalannya, “. . . and either must die at the hand of the other for neither can live while the other survives . . .”?

Siapa-siapa pula yang tewas dalam battle antara Orde Phoenix dan pembela Hogwarts lainnya dengan para pelahap maut? Apakah Ron dan Hermione salah satunya? Anda harus baca sendiri biar afdol… Lagipula tulisan ini hanya mengangkat sedikit saja dari sekian banyak bagian penting kisah yang terdapat pada buku ini.

Tapi kalau ingin bocoran lengkapnya, sudah terangkum di wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Harry_Potter_and_the_Deathly_Hallows).

Kesan yang saya tangkap setelah membaca buku ini: seru, tegang, tapi kurang puas. Ada beberapa bagian yang menimbulkan pertanyaan yang belum terjelaskan. Misalnya, tentang nasib keluarga Dursley yang tidak disinggung-singgung lagi setelah mereka pergi dikawal oleh 2 orang penyihir. Atau tentang nasib Griphook setelah dia berhasil kabur dari Gringotts dan melarikan pedang Godric Gryffindoor saat ia bersekutu dengan Harry. Tentang pedang tersebut yang tiba-tiba bisa muncul dari Topi Seleksi saat diambil oleh Neville, dan sebagainya. Ada beberapa bagian cerita yang sudah dapat tertebak, ada juga yang mencengangkan. Selain itu, menjelang akhir cerita, adegan Harry mengobrol dengan Dumbledore di suatu tempat mirip King’s Cross itu memang terasa agak mengawang-ngawang… hehehe…

Saya juga merasa Voldemort tuh lucu… dia Sang Pangeran Kegelapan kena tipu terus sama kesombongannya sendiri. Dia uring-uringan terus gara-gara tongkatnya tak pernah mempan melawan tongkat Harry, bahkan ketika dia memakai tongkat Lucius Malfoy juga tak ada bedanya. Paling lucu pas di akhir, saat dia dan Harry benar-benar berhadapan untuk penentuan hidup-mati. Semua ucapan Harry tampak membuat dia shock, meski ditutup-tutupi. Apalagi pas yang ini:

… “I know things you don’t know, Tom Riddle. I know lots of important things that you don’t. Want to hear some, before you make another big mistake?”

Voldemort did not speak, but prowled in a circle, and Harry knew that he kept him temporarily mesmerized and at bay, held back by the faintest possibility that Harry might indeed know a final secret....

“Is it love again?” said Voldemort, his snake’s face jeering. “Dumbledore’s favorite solution, love, which he claimed conquered death, though love did not stop him falling from the tower and breaking like an old waxwork? Love, which did not prevent me stamping out your Mudblood mother like a cock-roach, Potter—and no body seems to love you enough to run forward this time and take my curse. So what will stop you from dying now when I strike?”

“Just one thing,” said Harry, and still they circled each other, wrapped in each other, held apart by nothing but the last secret.

“If it is not love that will save you this time,” said Voldemort, “you must believe that you have magic that I do not, or else a weapon more powerful than mine?”

“I believe both,” said Harry, and he saw shock flit across the snakelike face, …

Dari situ tampak sekali Voldemort hendak mengejek kekuatan cinta yang selama ini digembar-gemborkan Dumbledore sebagai kekuatan positif yang dahsyat. Tapi toh, akhirnya Voldemort sendiri yang keangkuhannya balik terejek.

Dan yang paling penting, pesan moral yang hendak disampaikan Rowling lewat seri Harry Potter begitu mengena. Contohnya tentang kekuatan cinta, persahabatan, harapan, pengorbanan dan masih banyak lagi. Dan jika hikmah dari setiap detil kejadian yang ada di cerita Harry Potter ini dibedah, sesungguhnya bisa dikonotasikan dengan hal-hal yang ada di kehidupan nyata kita ini, meskipun setiap orang bisa saja berbeda dalam menyerap maknanya. Banyak juga kan, para penulis yang sudah melakukan ‘pembedahan’ ini?

***

Komentar

  1. Mbak.. suka Harry Potter juga ya.. ^_^ buku ke-7 emang kurang greget sih.. kesannya keburu-buru.. kurang tebel =p.. tapi tetap kita suka ya.. ^_^
    Btw, aku masih nggak ngerti dari mana Harry bisa ambil kesimpulan kalo Elder Wand memilih Draco Malfoy setelah Dumbledore mati? Mbak tau nggak?

    BalasHapus
  2. Iya... suka juga. Emang, kayak terburu-bur pas endingnya ya... (wooo...kurang tebel???)

    Nggg... lumayan udah lama juga bacanya, rada lupa2 ceritanya hehehe... Tapi seingatku Harry sendiri kan ngeliat waktu peristiwa kematian Dumbledore si Malfoynya sempet ngambil tongkatnya Dumbledore yg udah terlucuti (koreksi kalo salah, udah lupa2 detailnya ^_^). Setelah Harry tau seluk-beluk Elder Wand, dia jadi tahu bahwa Elder Wand tsb ada di tangan Malfoy. Kan katanya Elder Wand cuma bisa dimiliki oleh orang yang mengalahkan pemilik sebelumnya (hihi... maaf kalo melenceng...koreksi aja)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Ada Surga di Rumahmu

Novel Milea: Suara dari Dilan

Ms. Jutek vs Mr. Reseh