Peter & Penangkap Bintang


Judul Buku: Peter dan Penangkap Bintang (diterjemahkan dari Peter and The Starcatchers)

Penulis: Dave Barry & Ridley Pearson

Penerjemah: Maria Masniari Lubis

Tebal buku: 492 hlm, 19,5 cm.

Penerbit: Qanita, Bandung 2007

Peter, bersama keempat orang teman-temannya, James, Prentiss, Thomas, dan Tubby Ted, adalah anak-anak yatim piatu dekil yang terbiasa melalui hari-hari yang membosankan di Panti Asuhan bagi Anak Lelaki Terlantar St. Norbert. Pada hari itu mereka berlima berangkat diantar Tuan Grempkin menuju sebuah kapal di pelabuhan. Mereka merasa cemas karena untuk pertamakalinya mereka akan melakukan perjalanan jauh dengan berlayar, tidak diberitahu tujuannya kemana. Tuan Grempkin yang ringan tangan menyerahkan mereka kepada Tuan Slank, wakil komandan kapal yang akan mereka tumpangi. Dan mereka segera menyadari bahwa Slank juga tak jauh berbeda dengan Grempkin, bahkan mungkin lebih sadis.

Dan disinilah mereka, di Never Land. Sebuah kapal tua yang kondisinya sungguh menyeramkan, bahkan lebih mirip rongsokan. Kapal ini diketuai seorang kapten yang sama sekali tidak berbakat menjadi kapten kapal. Siapapun yang waras tidak akan menjalankan kapal sesuai perintahnya, kecuali kalau mau bunuh diri. Itulah sebabnya Slank, sebagai perwira pertama, yang sesungguhnya bertindak memimpin kapal ini. Tidak ada yang menyenangkan dari kapal ini, mulai dari fisik kapalnya sendiri hingga para awak kapal muatannya yang semuanya lusuh dan bau. Semuanya, kecuali seorang gadis kecil dan wanita besar pengasuhnya yang tampaknya suka mandi. Memang ganjil mengapa seorang gadis kecil yang tampaknya anak bangsawan berada diantara orang-orang kucel di dalam kapal jelek ini. Belakangan Peter mengetahui nama gadis kecil itu adalah Molly.

Sejak awal sebelum kapal ini berangkat memang terjadi keganjilan lain yang semuanya tak luput dari perhatian Peter. Seorang diantara 2 kelasi yang mengangkut kargo yang seluruh permukaannya ditutupi kain kanvas ke kapal itu berlaku ganjil ketika tiba-tiba ia menyentuhkan tangannya ke bawah kanvas. Ekspresi wajahnya menunjukkan ia mengalami sensasi yang aneh, menyenangkan, dan terlihat begitu bahagia. Dan ketika Slank yang tampak marah melihat hal itu membentaknya untuk melepaskan kargo tersebut, Alf, nama kelasi itu, terlihat sedih karena enggan melepaskannya. Jadi, pertanyaannya, sebenarnya benda apa yang Alf sentuh itu?

Keadaan Peter dan teman-temannya di Never Land sama sekali tidak lebih baik daripada ketika mereka tinggal di St. Norbert. Mereka ditempatkan di area yang sempit, suram, tanpa jendela, dan berbau ikan busuk. Tak cukup itu, mereka mendapatkan makanan yang jauh dari standar layak, apalagi membangkitkan selera, malah menjijikkan. Mereka benar-benar tersiksa karena lapar. Hal ini membuat Peter tergerak untuk menyusuri seluruh tempat di kapal ini, siapa tahu ada ‘makanan sungguhan’ yang bisa dicuri.

Keganjilan lain Peter temukan saat ia mengendap-endap keluyuran berkeliling kapal. Di sebuah ruangan gelap yang dijaga oleh seorang kelasi yang tertidur, Peter melihat tikus terbang! Ketika itu terjadi, Peter tahu bahwa di situ juga ada Molly. Keheranan Peter tidak langsung terjawab karena ia harus cepat-cepat lari sebelum si penjaga yang terbangun dapat menangkapnya.

Sekarang banyak pertanyaan berputar di kepala Peter. Ada yang disembunyikan oleh Molly. Dia pikir Molly tidak mungkin berada disana secara kebetulan. Apa yang dia lakukan disana? Dan tikus itu! Mana ada tikus yang terbang? Lebih-lebih setelah kejadian itu Peter sempat memergoki Molly berbicara, ya, berbicara dengan lumba-lumba! Dengan bahasa yang aneh tentunya.

Semua misteri itu terungkap saat akhirnya, dengan terpaksa, Molly menceritakan semua yang diketahuinya kepada Peter. Molly ternyata adalah anak salah seorang keluarga Penangkap Bintang. Para Penangkap Bintang adalah orang-orang yang berusaha mengamankan dan mengembalikan serbuk bintang yang jatuh ke bumi dari tangan Yang Lain. Serbuk bintang memiliki kekuatan ajaib yang akan berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah, termasuk mereka ‘Yang Lain’. Dengan kekuatan serbuk bintang, banyak hal ajaib bisa terjadi, termasuk transformasi wujud makhluk-makhluk dan, tentu saja, terbang. Molly juga memperagakannya, dia benar-benar bisa melayang. Masalahnya adalah, belakangan ini terdapat sejumlah serbuk bintang yang jatuh ke bumi, tepatnya di Skotlandia, jauh lebih banyak daripada jumlah yang sudah-sudah. Dan ketika Para Penangkap Bintang tiba ditempat itu, serbuk bintangnya sudah tidak ada. Ada yang lebih dulu menemukannya. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa serbuk bintang itu telah disimpan oleh Yang Lain dalam sebuah peti dan dijaga ketat oleh para Prajurit Ratu Inggris. Dan kini peti itu diangkut oleh kapal Wasp, sebuah kapal yang sangat indah, dikepalai oleh seorang kapten perkasa yang cerdik. Kapal itu adalah satu-satunya kapal yang bisa lolos dari kapal bajak laut Sea Devil. Benar-benar hebat. Sebelumnya tidak pernah ada kapal yang bisa selamat dari cengkeraman Sea Devil. Kapal itu berangkat pada hari yang sama dengan Never Land. Peter juga melihatnya. Iring-iringan prajurit mengawal sebuah peti yang akan dinaikkan ke Wasp. Kabar buruknya, peti itu akan diantarkan menuju Rundoon, sebuah negeri yang diperintah oleh Yang Mulia Raja Zarboff III yang amat kejam. Yang membuat Peter ngeri, ternyata tujuan Never Land juga kesana, dan ia beserta teman-temannya akan dijadikan sebagai pelayan-pelayan Raja Zarboff. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau sampai peti itu jatuh ke tangannya. Itulah alasan mengapa Leonard Aster, ayah Molly berada di kapal Wasp. Para Penangkap bintang mempunyai rencana sendiri untuk memastikan peti itu bisa direbut kembali ketika tiba di Rundoon.

Rencana yang sempurna itu menjadi berantakan ketika Molly menyadari bahwa peti itu ternyata ada disini, di Never Land, bukan di Wasp. Seseorang telah menukarnya. Molly mulai curiga sejak melihat tingkah aneh Alf saat menyentuh kargo itu. Kecurigaannya ini dibenarkan dengan adanya peristiwa tikus terbang itu. Satu masalah ini belum selesai, muncul masalah lain. Amm, lumba-lumba sahabat Molly, menyampaikan info bahwa kapal Wasp yang ditumpangi Leonard diburu oleh Sea Devil. Ternyata Black Moustache, Si Kumis Hitam kapten kapal bajak laut yang terkenal dan ditakuti itu, mengetahui ada sebuah peti harta karun diangkut di atas Wasp, meski dia tidak tahu persisnya apa isi peti itu.

Masalah semakin pelik ketika Black Stache berhasil menaklukkan Wasp, menyandera beberapa orang penting, termasuk Leonard yang berusaha menyelamatkan peti. Saat itulah Leonard sendiri baru menyadari bahwa isi peti yang dikawalnya hanyalah pasir! Sejak saat itu Black Stache mulai memburu Never Land, sebuah kapal buruk yang pada awalnya sama sekali tidak menarik hatinya. Ketika perburuan itu terjadi, cuaca begitu buruk, badai tengah mulai mengamuk. Namun bagi Black Stache, badai ini malah dipergunakan sebagai alat untuk membantu penyerangannya terhadap Never Land.

Ketika pertempuran itu terjadi, Peter dan Molly berusaha untuk menjatuhkan peti itu ke laut, satu-satunya pilihan yang harus diambil untuk mencegahnya jatuh ke tangan Stache ataupun Slank. Tapi yang terjadi malah Peter terlempar ke laut! Dan Peter sama sekali tidak punya pengalaman berenang…

Akan tetapi Riwayat Peter tidak lantas tamat sampai di situ. Karena dari situlah pertamakalinya dia merasakan pengalaman terbang. Dan peti harta karun itu, hanyut oleh arus laut. Sementara orang-orang mencari dan memburunya, peti itu terdampar di sebuah laguna. Never Land sendiri ditinggalkan begitu saja oleh para bajak laut untuk kemudian hancur berkeping-keping dihantam batu karang. Peter dan kawan-kawannya, serta Alf, selamat dengan cara yang berbeda hingga sampai di sebuah pulau yang dihuni oleh orang-orang Mollusk. Di sini, mereka tertangkap oleh orang-orang Mollusk yang akan mempersembahkan mereka untuk santapan Tuan Grin.

Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Apakah mereka bisa lolos dari Tuan Grin? Bagaimana pula nasib peti itu? Hmmm… Anda harus membacanya sendiri. Yang jelas, peti itu berkali-kali berpindah tangan. Sempat dijaga oleh para putri duyung, jatuh ke tangan Slank, Black Stache, Peter, bahkan ketua suku Mollusk juga sempat hendak merebutnya.

Buku ini benar-benar menakjubkan. Sebuah karya kolaborasi dari seorang novelis thriller, Ridley Pearson, dengan seorang humoris, Dave Barry, yang mengangkat latar belakang petualangan Peter Pan ini mampu menciptakan ketegangan dan humor yang tidak akan membuat pembaca bosan. Membaca prekuel Peter Pan ini, pembaca diajak mengikuti sebuah petualangan yang penuh aksi heroik, diselingi dengan kosakata bajak laut yang unik.

Prekuel Peter Pan ini menyingkap keingintahuan mereka yang penasaran mengenai bagaimana asal-usul petualangan Peter Pan, sebagaimana pertanyaan ini jugalah yang mengawali ide dasar penulisannya. Di sinilah pembaca akan menemukan bagaimana Peter bisa terbang dan mengapa ia tetap menjadi anak-anak selamanya, mengapa Kapten Hook kehilangan sebelah tangannya, mengapa sekumpulan anak tinggal di Never Land, dan bagaimana pertemuan awal Peter dengan Tinker Bell.

***

Saran: Sebaiknya membaca sebagian awal buku ini tidak sambil makan, =P

Aku saja yang membacanya ketika perjalanan di bis ngerasa perutku agak mual-mual dikit, ha-ha-ha…

Komentar

Popular Posts

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon

Novel Milea: Suara dari Dilan

Merayakan Momen Spesial dengan Makan-makan di Celebrate Cafe Bandung