Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken


Sebuah buku yang unik karya kolaborasi penulis novel best seller Dunia Sophie, Jostein Gaarder, dan Klaus Hagerup. Begitu membaca sinopsisnya aku langsung tertarik untuk membeli buku ini. Dan syukurlah, ternyata isinya bagus dan tidak mengecewakan. Sebagai penggemar buku aku begitu tergelitik dengan paragraf terakhir yang tertulis di sinopsisnya. Apa katanya?

“… Tetapi buku ini tidak sesederhana itu, buku ini juga berisi cerita detektif, cerita misteri, perburuan harta karun, petualangan ala Lima Sekawan, Astrid Lindgren, Ibsen, Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie The Pooh, Anne Frank, kisah cinta, korespondensi, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, puisi, sejarah buku, drama, film, perpustakaan, penerbitan, humor, konspirasi…

Masih juga tidak tertarik? (Haaahhh?) Baca komentar ini:

‘Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan.’

Ruhr Nachrict”

Begitulah, maka aku tertarik.

Buku ini terbagi ke dalam dua bab. Bab 1 : Buku-surat, bab 2: Perpustakaan. Bab pertama berisi tulisan-tulisan Berit dan Nils, dua orang sepupu yang baru menginjak masa remaja. Mereka berdua tinggal di kota yang berbeda, Nils di Oslo, sedangkan Berit di Fjaerland. Mereka menggunakan buku-surat ini untuk saling berkomunikasi. Sejak awal sampai akhir menyimaknya, Anda akan dibuat penasaran dengan berbagai pengalaman yang mereka tuliskan, apalagi mereka menambahkan dugaan-dugaan, teori, imajinasi dan fantasi mereka masing-masing untuk mendapat titik terang dari semua misteri yang mereka hadapi. Adapun dalam bab dua, diceritakan saat-saat di mana pada akhirnya Nils dan Berit berkumpul kembali untuk memecahkan misteri tersebut. Mereka bahkan berhasil memasuki perpustakaan bawah tanah milik Bibbi Bokken. Di sinilah pada akhirnya semua misteri itu diurai satu persatu.

Misteri itu berawal dari pertemuan mereka dengan seorang wanita aneh pencinta buku yang misterius bernama Bibbi Bokken. Lalu muncullah nama-nama baru yang tampaknya juga berhubungan dengan wanita misterius ini. Bahkan Pak Bruun, guru Nils, dan istrinya juga terlibat. Yang paling mengerikan adalah si Smiley, laki-laki plontos yang memiliki senyum mengerikan dan tampaknya selalu membuntuti kemana pun Nils berada. Orang-orang itu mengincar buku-surat mereka! Untuk apa? Yang jelas semua ini berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib. Dan tampaknya Bibbi Bokken tengah merencanakan sesuatu atas diri mereka. Entah apa. Berit dan Nils tertantang untuk mengungkap semua misteri ini.

Selama mengikuti petualangan Berit dan Nils ini, banyak wawasan mengenai perbukuan yang dapat kita simak, seperti yang disebutkan pada kutipan penggalan sinopsis di atas. Aku sendiri jadi mengerti beberapa istilah seperti bibliografer, bibliophile, incunabula… Lalu ada Klasifikasi Desimal Dewey, yang, jujur saja baru kali ini aku ngeh bahwa kode-kode buku yang sering kulihat di perpustakaan itu ternyata mengikuti sistem klasifikasi ini.

Dan, aku ingin kutipkan kalimat-kalimat dalam buku ini yang menjadi favoritku:

…Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengerti apa sesungguhnya buku itu. Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan “ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.

Aku melihat ke bagian atas dinding dan selama beberapa saat merasa seolah buku-buku tersebut menatapku. Ya, seolah mereka bernyawa, dan memanggil:

“Datanglah kepada kami! Jangan takut! Kemarilah!”

Tiba-tiba aku lapar sekali. Bukan lapar akan makanan, namun akan segenap kata-kata yang tersembunyi di rak-rak tersebut. Tapi aku tahu: seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari esluruh kalimat yang tertuliskan. Karena di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu laksana sebuah ruang yang tak pernah berujung.

Namun, pada saat itu aku pun tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.

(Hal.237-238)

Nice book, indeed! Aku jadi penasaran bagaimana ya, versi inggrisnya (versi bahasa aslinya aku ga kan ngerti kali!)? Soalnya ada beberapa kalimat yang terasa agak aneh. Tapi secara keseluruhan terjemahannya sudah cukup baik kok.

Komentar

  1. Terimakasih atas resensinya, sudah kami share di FB Penerbit Mizan.
    Boleh, kan?

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan jejakmu kala mampir di sini

Popular Posts

Bandung Kunafe, Oleh-oleh Kekinian Kolaborasi Omesh & Irfan Hakim

Novel Milea: Suara dari Dilan

The Lorax Film: Kisah Kota Plastik Tanpa Pohon